bagi sementara orang mungkin apa yang kulakukan saat ini lumayan absurd: sekolah s3 ketika usia lima puluh tahun.
dengan kondisi kinerja fisik maupun mental yang barangkali sudah kurang cocok untuk itu. saya bilang “barangkali” karena saya juga tidak terlalu pasti, barangkali saja memang usia sebegini adalah saat yang paling baik? namanya juga barangkali, yang artinya kita tidak tahu mana yang benar atau yang lebih benar.
dan saya juga tidak ingin mencari tahu yang mana di antara barangkali tersebut yang lebih benar. yang saya tahu cuma bahwa itulah pilihan yang paling logis yang mesti ku lalui saat ini.
banyak pilihan lain memang, tetapi pilihan itulah yang paling bisa diterima nalarku yang aku sendiri juga tidak tahu dan mungkin juga tidak perlu tahu apakah benar ataukah tidak, karena selamanya kita hampir tidak pernah bisa tahu mana yang benar atau mana yang lebih benar di antara pilihan kita.
ada satu hal yang cukup membuatku bertahan untuk “ngeyel” menjalani pilihan ini: saya merasa telah melakukan sesuatu yang menurut keyakinan saya yang paling baik.
teringat pada beberapa tahun yang lalu pernah menulis tentang Kumbokarno dan surga di salah satu mailing list keagamaan dan sempat memperoleh tanggapan yang negatif, karena saya bilang bahwa yang menentukan keselamatan manusia di akhirat bukanlah kebenaran keyakinan, tetapi kesediaan untuk setia terhadap keyakinan yang diyakini seseorang.
Setia, dan bersedia untuk berjuang untuk keyakinannya.
S3 di usia limapuluh tentu berbeda dengan S3 di usia 25, yaitu usia yang menurutku paling pas untuk s3. lalu selesai menjadi doktor sebelum umur 30.
Kalau saja saya berpendapat bahwa S3 adalah awal, tentulah s3 di usia limalupuh adalah s3 yang sangat terlambat. tetapi tidak, s3 adalah sebagian dari kekayaan kisah hidup kita, yang juga diisi, dihiasi, dikotori, dikisruhi, diwarnai, dihebohkan, di dan lain-lain dan lain-laini oleh berbagai episode cerita yang lainnya.
jadi saya s3-nya sekarang, tapi belajar lain-lainnya di usia 25. (meskipun sampai sekarang masih menginginkan dan merencanakan agar anak-anak saya nanti s3 di usia 25, karena menurut saya sebenarnya lebih optimal untuk yang seperti itu).
Dan meskipun teman-teman, tetangga di kampung sulit untuk memahami bagaimana orang di usia sebegini masih saja sekolah, sementara teman sebaya sudah bercucu, sementara teman seangkatan kuliah sudah menjadi profesor, sudah menjadi menteri, sudah menjadi direktur, sudah naik haji, sudah dan lain-lain yang saya belum, saya masih bertahan, berjuang untuk terus bertahan dengan kondisi yang mungkin sedikit agak berbeda dengan “pentahapan normal” menurut kebanyakan orang.
ada salah satu hal yang masih membuat saya merasa pantas untuk sekolah di usia sekarang, yaitu kisah salah seorang ilmuwan muslim yang sayangnya saya lupa namanya, barangkali albiruni atau siapa, yang pada saat sakit menjelang meninggalnya dijenguk oleh temannya yang sudah beberapa waktu sebenarnya dimintanya untuk mengajari suatu perkara. Pada saat itu sang ilmuwan menagih janji kepada temannya untuk mengajarkan ilmu yang dahulu dimintanya tersebut. Dan ketika sahabatnya dengan heran bertanya untuk apa dalam kondisi sakit yang sudah parah dan barangkali sudah menjelang meninggal tersebut sang ilmuwan msaih ingin memperoleh tambahan pelajaran keilmuan.
sahabatnya heran, untuk apa manfaatnya bagi beliau untuk belajar, jika ajal sudah mendekat? maka sang ilmuwan berkata bahwa ia merasa lebih lega menghadap Allah dalam keadaan sudah bertambah sebuah pengetahuan baru.
itu kasus ekstrimnya. namun motivasi saya jauh lebih duniawi daripada itu:
menjadi dosen di perguruan tinggi, kalau tidak s3 maka masa depannya sudah selesai.
dengan sekolah s3, setidaknya kita masih memelihara harapan bahwa besok saya menjadi lebih baik dari sekarang, menjadi lebih pantas, menjadi lebih berkualitas, menjadi lebih pintar, menjadi “terpaksa” untuk belajar serius, apalagi saya termasuk yang berpendapat bahwa dosen yang tidak s3 sebaiknya mengajukan pensiun dini, karena sebenarnya kurang layak untuk berprofesi sebagai dosen. Maka itulah keyakinan saya dan saya berusaha untuk setia terhadap keyakinan saya tersebut, meskipun seandainya tidak s3-pun saat ini tidak akan dikeluarkan dari jabatan sebagai dosen, tapi rasanya memang kurang pantas.
Begitu.
Namun sebenarnya ada motivasi yang lebih mendalam, berada di antara wilayah bawah sadar: menjadi doktor sebenarnya impianku semasa menjadi mahasiswa s1 dahulu. barangkali agak sentimental, tapi bagi saya mimpi adalah sumber motivasi yang sebenarnya tidak logis, namun cukup efektif memandu langkah kita dan memberi cukup tenaga untuk bertahan ketika banyak terjadi hambatan di perjalanan. menjadi doktor di usia lebih dari limapuluh tahun adalah pencapaian yang jauh, dan barangkali malah teramat jauh, dari bisa dibanggakan, namun setidaknya cukup memberi bobot ketika kita mau mengajarkan kepada anak-anak supaya pantang menyerah.
bersekolah di usia limapuluh tentu memerlukan daya juang yang lebih tinggi dibanding dengan sekolahs3 di usia “normal”, tapi saya ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa kalau sudah menetapkan pilihan maka hanya ada satu jalan: perjuangkan dengan kesetiaan.
ada satu potong kalimat dari puisi yang saya tulis bertahun yang lalu:
Bekal hidup adalah kesabaran.
Dan pengetahuan adalah jalan perjuangan.
